Blog untuk masyarakat lumajang, yang menampilkan berbagai budaya kota lumajang dan informasi - informasi terbaru yang lebih bermanfaat.
Loading...

Sabtu, 23 April 2011

Makna Hari Kartini Bagi Kaum Perempuan Indonesia

Inilah salah satu pahlawan Indonesia yang selalu dikenang oleh rakyat, karena jasanya yangbegitu besar terutama bagi kaum perempuan. Setahun sekali kita merayakan Hari Kartini, tepatnya setiap tanggal 21 April.  Apa makna sebenarnya tentang hari Kartini khususnya bagi kaum perempuan di Indonesia ?. Kartini tidak bisa lepas dengan yang namanya Emansipasi Wanita. Emansipasi merupakan istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Sedangkan dari kamus KBBI, istilah emansipasi diartikan sebagai persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Lalu siapa sebenarnya Kartini ?, Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya me nikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini
R.A. KARTINI
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. ( Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini )


Isma Kania Dewi dan Ida Fiqriah


Ia melihat bintang jatuh tengah malam, tiga tahun lalu, dalam perjalanan Denpasar-Cairns, Australia. Mula-mula sebuah, lama-lama jumlahnya berlipat. Itulah meteor shower, hujan meteor. Ia cepat berbisik, mengutarakan keinginannya: mengongkosi kedua orang tuanya pergi haji, dan memiliki sebuah mobil sport.
Tahun ini kedua orang tuanya berangkat ke Tanah Suci. Tentang mobil sportnya, ia tak harus menunggu lama lagi.
Isma Kania Dewi, 31 tahun, merasa beruntung melihat fenomena di langit Cairns yang hitam itu. Ia bersyukur, nasib telah menggiringnya ke kokpit pesawat. Waktu itu ia kopilot Garuda Indonesia-sekarang ia pilot Qatar Airways. Satu di antara enam pilot perempuan Indonesia yang mengemudi pesawat komersial.
Terbang memang cita-citanya, di samping menjadi dokter. Lulus SMA Regina Pacis, Bogor, ia langsung mendaftar ke Pusat Latihan Penerbangan Curug, Tangerang. Latihannya dengan disiplin militer dan tak ada perlakuan khusus terhadap siswa wanita. Setahun berselang, 1996, namanya terdaftar sebagai siswa. Lulus dari Curug, ia pun mengantongi Commercial Pilot License Multi Engine Instructor Rating.
Isma telah mengemudikan Boeing 737. Dengan itu ia sudah mengudara di kawasan domestik dan regional-Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, Ho Chi Minh City, Perth, Cairns, dan Darwin. Kariernya melesat cepat di Qatar Airways. Kini dara ini tengah menunggu kesempatan mengemudikan pesawat berbadan superbesar: Airbus 330, Airbus 340, dan Boeing 777. "Di sini ada sembilan pilot perempuan, jadi nggak berasa lagi jadi makhluk aneh," ucap Isma, membandingkan perimbangan lelaki-perempuan di dalam negeri.

Itulah segelintir cerita dua orang perempuan yang terinspirasi oleh Ibu Kita Kartini. Maju terus kaum perempuan Indonesia......!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar